Lintas Generasi, Lintas Gagasan: DIY Perkuat Ekosistem Seni Kontemporer Lewat Panggung Bersama
- Administrator
- Selasa, 19 Mei 2026 07:22
- 4 Lihat
- Sorotan
Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta kembali menegaskan perannya sebagai penggerak ekosistem seni dengan menghadirkan program Ekspresi Seni Kontemporer Lintas Generasi di Gedung Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta, Rabu (20/5). Kegiatan ini dirancang sebagai ruang temu kreatif yang mempertemukan seniman dari latar usia berbeda, sekaligus memperkuat jejaring seni kontemporer di Yogyakarta.
Menurut Kepala Seksi Penyajian dan Pengembangan Seni Budaya Taman Budaya Yogyakarta, Cerrya Wuri Waheni, dalam keterangannya. Program tersebut menjadi bagian dari komitmen menghadirkan ruang ekspresi sekaligus regenerasi bagi pelaku seni. Tidak hanya sebagai panggung pertunjukan, kegiatan ini diposisikan sebagai wadah dialog antar-generasi yang membuka peluang kolaborasi dan pertukaran gagasan artistik.
Tiga koreografer dari generasi berbeda dihadirkan untuk merepresentasikan perjalanan dan perspektif masing-masing era. Besar Widodo, mewakili generasi 40-an, membawakan karya “Di Atas Irama Dua” yang menyoroti refleksi pengalaman panjang dalam proses kreatif. Sementara Galih Puspita dari generasi 30-an tampil lewat karya “Ngluru Lurung”, sebuah eksplorasi pencarian identitas ruang dan tubuh dalam konteks urban. Dari generasi termuda, Eka Lutfi Febriyanto menghadirkan “Sangkar Sunyi yang Bernyawa”, karya yang mengekspresikan kegelisahan sekaligus keberanian generasi baru dalam membaca realitas sosial.
Tak berhenti pada pertunjukan individual, ketiga penata tari tersebut juga terlibat dalam kolaborasi lintas generasi. Kolaborasi ini menjadi simbol pertemuan pengalaman, bahasa gerak, dan sudut pandang artistik yang berbeda, memperlihatkan bagaimana seni kontemporer terus berkembang melalui dialog terbuka antar pelaku seni.
Lebih dari sekadar agenda pertunjukan tari, Ekspresi Seni Kontemporer Lintas Generasi diharapkan menjadi ruang silaturahmi kreatif yang menegaskan bahwa seni bukan hanya warisan masa lalu, tetapi proses berkelanjutan yang terus hidup melalui generasi baru.
Melalui pertukaran pengalaman dan ide, kegiatan ini diharapkan mampu memperkaya perkembangan seni pertunjukan kontemporer Indonesia sekaligus memperkuat posisi Yogyakarta sebagai salah satu pusat dinamika seni nasional.
Foto: Ilustrasi AI